Minggu, 09 Oktober 2011

FOREDI DAN GASA

    Ruang kamar masih dibiarkannya gelap. Hanya sedikit sinar temaram dari balik gordyn jendela yg  bisa memperjelas bahwa ternyata saat itu ada air mata yang mengalir dari kelopak mata Amalia.
Amalia memejamkan matanya, dia menangis tanpa suara seakan takut suaminya tahu segala kepedihan yang dia rasakan saat itu.
Dia beruasaha meredam rasa yang menyiksanya, tapi.. tetap saja air matanya tidak bisa ia tahan, mengalir membasahi pipi hingga tidak disadari bantal yg dia pakaipun sudah basah oleh air matanya.

      Sesekali dia membuka mata, manatap suaminya yg tergolek tidur lelap setelah beberapa saat tadi meraka bercengkrama, menumpahkan  hasrat birahi.
Sebagai suami istri itu tentu sudah sering kali dia lakukan. Tapi setiap dia lakukan itu kenapa dia selalu merasa ada yg mngganjal dalam hatinya. Perasaan tidak nyaman dan terkadang bisa berubah menjadi rasa amarah yang siap meledak begitu menyesakan dadanya,  tapi dia tidak mampu menumpahkannya. Akhirnya kembali hanya air mata yg bisa sedikit meringankan perasaannya saat itu.

      Apakah sebenarnya yg terjadi. Ternyata selama ini Amalia tidak pernah merasa mendapatkan kepuasan saat berhubungan intim dengan suaminya. Seringkali suaminya menyudahi hajat sebelum dirinya mencapai puncak.
Jangan berkali kali, sekali sajapun dirinya sangat jarang untuk mendapatkannya.
Dia sangat merasakan, suaminya tidaklah bgitu bisa diandalkan untuk urusan ranjang. berdirinya kurang tegak, mudah lelah, dan cukup sekali saja.

     Terpikir olehnya untuk usul supaya suaminya menggunakan FOREDI dan GASA
lebih bagus lagi kalau suaminya mengkombinasikan keduanya begitu yang dia baca pada sebuah iklan.
Tapi sampai sekarang usulnya itu belum pernah dia sampaikan.


      Amalia menatap langit langit kamar, pikirannya menerawang jauh. Bayangan laki laki yg mencoba dekat dengan dia pun datang silih berganti. Amalia tenggelam dalam hayalannya sampai pagi menjelang.......